Selasa, 06 Oktober 2015

TINTA KEHIDUPAN YANG BAIK DAN INDAH


Hai Guys...Namaku Naily Qiyadatul Ulya, orang-orang kerap menyapaku Qia. Aku seorang mahasiswi Ekonomi Islam semester lima di salah satu perguruan tinggi di Jogja, hampir semua orang mengenalku dengan caraku berkacamata dan alisku yang tebal mirip angry bird kata teman-temenku.
Disini aku ingin sedikit menceritakan kisah perjalananku, lebih tepatnya proses Hijrahku. Dulu saat masih awal masuk perkuliahan, sifat labil dan banyak tingkah sangat melekat padaku, mugkin masa-masa penyesuaian kali yaa, hehe.
Sistem di kampus untuk semester satu, kelasnya masih ditentukan dan kebetulan aku dapat bagian jadi anggota Ekis D. Selama satu semester di kelas Ekis D aku mulai mengenal karakter teman-teman sekelas, aku bersyukur banget bisa jadi anggota kelas Ekis D yang penuh kekeluargaan. Di Ekis D ini aku merasa punya keluarga baru di Jogja dan di kelas ini juga aku pun mendapatkan  segudang pelajaran hidup dari arti menemukan sampai kehilangan. Dalam hal kehilangan ini, aku punya sedikit kisah tentang sahabatku yang bernama Ikhsan Akbar Wahid (Alm). Ikhsan adalah sahabat lawan jenis pertama yang aku punya, laki-laki berasal dari Jakarta ini mempunyai jiwa sosial yang tinggi, humoris, postur tubuhnya tidak terlalu tinggi dan berkulit putih, Ikhsan orang yang sangat baik dan santai kalau di ajak bicara. Namun di pertengahan semester setelah UTS, ternyata Allah begitu cepat memanggilnya. Waktu perkuliahan Bahasa Inggris tepatnya hari kamis pukul 09.00 ternyata sebagai perkuliahan terakhir buat Ikhsan, ketika pulang kuliah Bahasa Inggris aku melihat ada hal yang tidak wajar dengan sikapnya dan status-statusnya di  akun facebook, kemudian kamis sore tiba-tiba ada sms masuk di Handphone ku dan mengabarkan bahwa ada teman yang bernama Ikhsan Akbar Wahid meninggal dunia, disitu aku sempat tidak percaya adanya berita duka tersebut, saat aku pastikan ternyata berita itu benar adanya dan ternyata Ikhsan meninggal karena kecelakaan. Waktu itu rasanya aku masih tidak percaya kalau aku kehilangan seorang sahabat baru, lebih harunya lagi Ikhsan (Alm) meninggal pada tanggal 28 November dan adikku (Almh) 29 November. Mungkin hikmah dari semua itu adalah membuatku mengerti apa sebenarnya arti menemukan.
Kembali ke kisah hijrahku, awal dari hijrahku dimulai dari terjalinnya persahabatanku dengan gadis kecil berparas anggun, Aim namanya. Aim ini salah satu sahabat yang membuatku bisa jadi aku yang sekarang, dengan nasihat dan motivasinya di setiap malam yang sunyi sambil memutar berbagai video motivasi di laptopnya, menjadikan aku terus berfikir dan introspeksi diri, bahkan dia pernah begadang semalaman cuma membuat kata-kata berisi nasihat untuk disisipkan difotoku. Terharunya aku, hampir semua nasihatnya berisi tentang wanita sholiha dan tentang bagaimana menjadi diri sendiri.
Pada suatu hari tiba-tiba Aim membawakan sebuah buku motivasi karya dari Felix Siauw yang berjudul “Udah Putusin Aja”. Menurutku buku tersebut sangat bagus dan memotivasi, karena banyak hal yang menerangkan bahwa Allah begitu memuliakan seorang wanita dan kewajiban wanita terutama dalam hal berhijab. Selain itu buku karya Felix Siauw juga sangat menarik untuk dibaca, dengan cover yang berwarna pink penuh gambar-gambar kartun yang diselipkan dengan kata-kata gaul dan kekinian, jadi sangat cocok di baca oleh para remaja muslim.
Dari situlah pintu hidayahku terbuka, aku memulai hijrahku dan membuat prinsip baru dalam hidup untuk menjadi wanita yang lebih baik, dari aku yang dulunya biasa memakai celana ketat, krudung yang pendek, baju berlengan tiga per empat, suka mengikuti tren-tren kekinian dan cara bersikap yang masih labil dan tidak terarah, sekarang aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan merubah penampilanku dari segi berpakaian yang lebih syar’i dan selalu berusaha untuk menjadi wanita yang sholiha, bahkan dalam hal pacaran pun InsyaAllah aku hindari. Perjalanan hijrahku tidak sampai disitu, menurutku yang namanya hijrah itu mudah namun Istiqomahnya yang susah. Dalam proses hijrahku ini, bersyukurnya aku berada di lingkungan yang kondusif dan di pertemukan dengan sahabat-sahabat yang selalu mendukung dan selalu menguatkan aku untuk tetap Istiqomah, sebut saja Riang dan Maritsa. Dari beberapa teman laki-laki dikelas juga sering memberi masukan nasihat-nasihat dan saling mendo’akan.
Dari berbagai hal yang menjadikan motif pengalaman dalam hidupku, aku sangat berterimakasih pada Tuhan dengan tiada henti, karena sudah mempertemukan aku dengan mereka. Bahkan adanya mereka terkadang membuatku dilema untuk pengen cepat wisuda, bagaimana tidak... kalau aku cepat wisuda berarti aku juga harus cepat berpisah sama mereka, namun mahasiswa mana sih yang tidak menginginkan cepat wisuda??ahh entahlah..
Terima kasih telah membaca cuplikan tinta kehidupanku...Salam Semangat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar