Hai
Guys...Namaku Naily Qiyadatul Ulya,
orang-orang kerap menyapaku Qia. Aku seorang mahasiswi Ekonomi Islam semester
lima di salah satu perguruan tinggi di Jogja, hampir semua orang mengenalku
dengan caraku berkacamata dan alisku yang tebal mirip angry bird kata teman-temenku.
Disini
aku ingin sedikit menceritakan kisah perjalananku, lebih tepatnya proses Hijrahku. Dulu saat masih awal masuk
perkuliahan, sifat labil dan banyak tingkah sangat melekat padaku, mugkin
masa-masa penyesuaian kali yaa, hehe.
Sistem
di kampus untuk semester satu,
kelasnya masih ditentukan dan kebetulan aku dapat bagian jadi anggota Ekis D. Selama
satu semester di kelas Ekis D aku mulai mengenal karakter teman-teman sekelas,
aku bersyukur banget bisa jadi anggota kelas Ekis D yang penuh kekeluargaan. Di
Ekis D ini aku merasa punya keluarga baru di Jogja dan di kelas ini juga aku
pun mendapatkan segudang pelajaran hidup
dari arti menemukan sampai kehilangan. Dalam hal kehilangan ini, aku punya
sedikit kisah tentang sahabatku yang bernama Ikhsan Akbar Wahid (Alm). Ikhsan
adalah sahabat lawan jenis pertama yang aku punya, laki-laki berasal dari
Jakarta ini mempunyai jiwa sosial yang tinggi, humoris, postur tubuhnya tidak
terlalu tinggi dan berkulit putih, Ikhsan orang yang sangat baik dan santai
kalau di ajak bicara. Namun di pertengahan semester setelah UTS, ternyata Allah
begitu cepat memanggilnya. Waktu perkuliahan Bahasa Inggris tepatnya hari kamis
pukul 09.00 ternyata sebagai perkuliahan terakhir buat Ikhsan, ketika pulang
kuliah Bahasa Inggris aku melihat ada hal yang tidak wajar dengan sikapnya dan
status-statusnya di akun facebook,
kemudian kamis sore tiba-tiba ada sms masuk di Handphone ku dan mengabarkan bahwa ada teman yang bernama Ikhsan
Akbar Wahid meninggal dunia, disitu aku sempat tidak percaya adanya berita duka
tersebut, saat aku pastikan ternyata berita itu benar adanya dan ternyata
Ikhsan meninggal karena kecelakaan. Waktu itu rasanya aku masih tidak percaya
kalau aku kehilangan seorang sahabat baru, lebih harunya lagi Ikhsan (Alm)
meninggal pada tanggal 28 November dan adikku (Almh) 29 November. Mungkin
hikmah dari semua itu adalah membuatku mengerti apa sebenarnya arti menemukan.
Kembali
ke kisah hijrahku, awal dari hijrahku dimulai dari terjalinnya persahabatanku
dengan gadis kecil berparas anggun, Aim namanya. Aim ini salah satu sahabat
yang membuatku bisa jadi aku yang sekarang, dengan nasihat dan motivasinya di
setiap malam yang sunyi sambil memutar berbagai video motivasi di laptopnya,
menjadikan aku terus berfikir dan introspeksi diri, bahkan dia pernah begadang
semalaman cuma membuat kata-kata berisi nasihat untuk disisipkan difotoku. Terharunya
aku, hampir semua nasihatnya berisi tentang wanita sholiha dan tentang
bagaimana menjadi diri sendiri.
Pada
suatu hari tiba-tiba Aim membawakan sebuah buku motivasi karya dari Felix Siauw
yang berjudul “Udah Putusin Aja”.
Menurutku buku tersebut sangat bagus dan memotivasi, karena banyak hal yang
menerangkan bahwa Allah begitu memuliakan seorang wanita dan kewajiban wanita
terutama dalam hal berhijab. Selain itu buku karya Felix Siauw juga sangat
menarik untuk dibaca, dengan cover
yang berwarna pink penuh
gambar-gambar kartun yang diselipkan dengan kata-kata gaul dan kekinian, jadi
sangat cocok di baca oleh para remaja muslim.
Dari
situlah pintu hidayahku terbuka, aku memulai hijrahku dan membuat prinsip baru
dalam hidup untuk menjadi wanita yang lebih baik, dari aku yang dulunya biasa
memakai celana ketat, krudung yang pendek, baju berlengan tiga per empat, suka
mengikuti tren-tren kekinian dan cara bersikap yang masih labil dan tidak
terarah, sekarang aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan merubah
penampilanku dari segi berpakaian yang lebih syar’i dan selalu berusaha untuk
menjadi wanita yang sholiha, bahkan dalam hal pacaran pun InsyaAllah aku
hindari. Perjalanan hijrahku tidak sampai disitu, menurutku yang namanya hijrah
itu mudah namun Istiqomahnya yang susah. Dalam proses hijrahku ini,
bersyukurnya aku berada di lingkungan yang kondusif dan di pertemukan dengan sahabat-sahabat
yang selalu mendukung dan selalu menguatkan aku untuk tetap Istiqomah, sebut
saja Riang dan Maritsa. Dari beberapa teman laki-laki dikelas juga sering
memberi masukan nasihat-nasihat dan saling mendo’akan.
Dari
berbagai hal yang menjadikan motif pengalaman dalam hidupku, aku sangat
berterimakasih pada Tuhan dengan tiada henti, karena sudah mempertemukan aku
dengan mereka. Bahkan adanya mereka terkadang membuatku dilema untuk pengen
cepat wisuda, bagaimana tidak... kalau aku cepat wisuda berarti aku juga harus
cepat berpisah sama mereka, namun mahasiswa mana sih yang tidak menginginkan
cepat wisuda??ahh entahlah..
Terima
kasih telah membaca cuplikan tinta kehidupanku...Salam Semangat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar